Apa bedanya JUJUR dengan CUCUR? Sebuah pertanyaan menarik dan menggelitik membuat setiap orang yang membaca atau mendengar heran dan mengerutkan dahi. Mengapa harus dibandingkan dengan kue CUCUR ya? Apabila dibandingkan berdasarkan ketatabahasaan, kedua kata tersebut sama-sama memiliki lima huruf. Bedanya kata JUJUR memiliki huruf pertama dan ketiga J, sedangkan CUCUR memiliki huruf pertama dan ketiga C. Tipis sekali memang, tapi itulah yang membuat menarik. Kue CUCUR yang legit dan manis itu akan sangat nikmat jika disantap sebagai teman minum kopi atau teh. Sedangkan JUJUR, tentu akan terasa manis juga jika digunakan, diaplikasikan, serta dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari di Negeri ini. Alangkah miris melihat potret buram tentang kejujuran di Indonesia. Mulai dari pengemis jalanan yang ’pura-pura’ sakit / cacat, pedagang yang mengurangi timbangan, pelaku bisnis yang ’main curang’, hingga para koruptor, baik kelas teri maupun kelas kakap yang dengan bebas melangkah dan beraksi di seluruh penjuru Nusantara.
Ada apa dengan kejujuran di Negeri kita? Sepertinya telah menjadi sesuatu yang sangat langka dan asing terdengar. Jika ada orang yang bersikap jujur, dianggap aneh. Jika ada orang yang mencoba mengembalikan uang atau sesuatu yang memang bukan miliknya, pasti dianggap munafik atau sok. Kebohongan dalam bentuk apapun seperti sesuatu yang sangat wajar terjadi, walaupun sangat merugikan. Sebenarnya umat islam memiliki idola yang sangat pantas dan patut untuk dicontoh dalam hal kejujuran ini. Siapa lagi kalau bukan nabi akhir zaman Muhammad SAW. Dari perkataan, tingkah laku dan gerak-gerik kesehariannya dapat kita lihat bagaimana beliau memang selayaknya mendapat gelar Al-Amin (yang dapat dipercaya). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dikatakan bahwa :
” Abdullah bin Mas’ud berkata: Bersabda Rasulullah : Kalian harus jujur karena sesungguhnya jujur itu menunjukan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan kepada jannah. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur sehingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan dan keburukan itu menunjukkan kepada neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta sehingga ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta” (HR Muslim) Shohih Muslim hadits no : 6586.
Jelas sekali bukan? Bagi seorang muslim yang telah meyakini bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah utusan Allah, tentu dapat melihat secara gamblang pentingnya sikap jujur dalam kehidupan manusia, di dunia dan akhirat. Secara logika hadits ini dapat dengan mudah kita ambil hikmahnya. Ternyata setiap perbuatan jujur yang seseorang lakukan akan membawa orang tersebut kepada sebuah kebaikan, dan akan menghantarkannya menuju syurga. Subhanallah, indah sekali bukan? Kita ambil satu ilustrasi seorang pedagang daging sapi. Apabila pedagang ini selalu bersikap jujur dalam setiap transaksinya, tidak mengurangi timbangan agar memiliki untung besar, tidak menaikkan harga sembarangan, maka sangat diyakini bahwa pedagang ini akan sukses di kemudian hari. Mengapa? Pertama, dia akan disukai banyak pelanggan, kemudian hal itu akan menarik magnet rezeki dan keberkahan yang jauh lebih besar lagi bagi keuntungan perdagangannya. Para pembeli akan segera beralih kepada si pedagang yang jujur ini. Tinggal menunggu waktu, setelah semua pembeli yang membutuhkan daging sapi hanya membeli dari satu pedagang yang jujur ini, apa yang terjadi? Kebaikan dunia akhirat pun ditangan. Rezeki berlimpah, kebaikan bersikap jujur berpahala, dan Insya Allah dapat meraih Syurga.
Bagaimana jika ada seorang pedagang lagi yang bersikap sebaliknya? Dia tidak segan-segan mengurangi timbangannya, tidak malu menaikkan harga, menjual daging sapi dengan kualitas sangat rendah tetapi harga yang tinggi. Apa yang akan terjadi? Benar. Untuk pertama kali mungkin pembeli tidak terlalu merasakan. Namun jika pembeli sudah mendapati kebohongan sekecil apapun, pasti pedagang itu akan ditinggalkan jauh-jauh. Fatalnya lagi, para pembeli itu akan berbicara kepada calon pembeli lainnya utnuk tidak membeli di tempat yang sudah merugikannya. Walhasil, Pedagang itu mendapat kerugian, mendapat keburukan karena sifatnya, serta satu paket menuju ke Neraka. Na’udzubillah. Sifat fitrah manusia memang tidak suka dibohongi, dalam bentuk apapun. Oleh karena itu, modal utamanya adalah dengan bersikap jujur, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Bukankah pengertian dari Iman itu sendiri merupakan refleksi dari sikap jujur? Mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalam hati, dan melaksanakan dengan perbuatan. Memang tidak mudah untuk selalu jujur, namun perlu usaha dan ikhtiar yang optimal dan kita biasakan dari hal-hal yang kecil dalam kehidupan kita sehari-hari. Berbicara, berbuat, berpendapat, bersaksi di pengadilan, dan lain sebagainya.
Lagi-lagi, bersikap jujur memanglah tidak mudah. Perlu kerja ekstra keras dari seluruh elemen Bangsa Indonesia untuk memulainya. Paling tidak mulailah dari diri sendiri, keluarga, lingkungan masyarakat, dan mudah-mudahan menjadi sebuah bola salju yang terus meluncur, menggulung, dan melesat menjadi jauh lebih besar, hingga mampu menghancurkan berbagai kebohongan dan kedustaan di sekelilingnya. Harapan besar menanti di setiap insan Negeri ini, baik orang kecil maupun pejabat, baik pedagang ataupun pelaku bisnis, laki-laki atau perempuan, semuanya harus mendukung dan berusaha melaksanakan gerakan hidup JUJUR. Agar suatu hari nanti, JUJUR pun akan senikmat dan semanis kue CUCUR, yang dapat dengan mudah dan murahnya diperoleh dan dinikmati bersama. Harapan itu masih ada, marilah kita awali saat ini juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar