Jumat, 19 November 2010

Dongeng: Sepatu yang sombong (Versi Anak)

” Pagi semuanya......! ” Sepatu Pink itu menyapa teman-teman yang sudah datang lebih dulu dan berada di posisi masing-masing. ”Pagi Pinky....kenapa kau baru datang? Biasanya kau lebih pagi dari kami?” Sepatu Hitam bertali yang berada di rak paling atas itu menyahut. ”Iya Black Sweet, hari ini majikanku agak kesiangan. Maklumlah namanya juga anak-anak, apalagi baru kelas satu SD, jadi masih agak manja. ” Pinky menjawab lagi.

            Pemandangan yang menarik. Setiap pagi semua sepatu anak-anak kelas satu SD di sekolah Cinta Ilmu itu selalu berada di posisi masing-masing. Rak sepatu dari plastik berwarna biru muda berukuran satu kali setengah meter telah tersedia di depan kelas. Model, warna, merk, dan harga sepatu yang ada pun beragam. Ada yang bertali, berperekat, pita kecil di atasnya, dan berbagai jenis hiasan lainnya yang menarik perhatian. Itulah dunia anak-anak. Sampai sepatu pun ikut berimajinasi seperti halnya mereka. Tak lama kemudian, ada sepasang sepatu lagi yang datang. Siapa dia?
            (sambil bernyanyi riang) ”Na..na..na...na...Halo semuanya....apa kabar? Perkenalkan, saya Max. Sepatu dari luar negeri, hargaku sangat mahal lho...sampai ratusan ribu rupiah. Lihat, bagian bawahku ada lampu warna-warni dan dapat mengeluarkan suara atau lagu anak-anak juga. Hebat kan? Mmm..Sepertinya disini tidak ada lagi sepatu yang bagus kecuali aku ya? ”  Max terus berceloteh tanpa henti.
            Pinky mulai bicara, ” Hei..hei...sepatu luar negeri. Sudahlah jangan banyak bicara. Kami tak suka mendengarnya. Mengapa majikanmu tidak meletakkanmu di sini? Di rak sepatu yang sudah tersedia? Bukankah setiap anak sudah diajarkan untuk meletakkan sepatunya sendiri di tempatnya? ”
            ” Ho..ho...ho... jelas beda dong jika sepatu seperti aku yang datang. Lihatlah kalian, sangat berbeda denganku. Kalian sepatu murahan, modelnya kuno, ga menarik lagi. Mana mungkin aku mau ditempatkan di Rak seperti kalian. Aku ini seharusnya ditempatkan di tempat yang khusus. Jadi biar saja majikanku Dirda yang mengurusnya.”
            ”Dasar sepatu sombong.” Si sepatu hijau Greeny, yang memiliki perekat diatasnya akhirnya ikut bicara. ” Kau tidak boleh begitu Max, setiap sepatu harus berada di rak sepatu.”
            Bluety si sepatu biru tak mau kalah, ” Benar itu Max, kau harus ada disini, di Rak sepatu ini. Karena memang inilah tempat kita. Agar kita semua terlihat rapi dan teratur. Betul kan teman-teman...? ”
            ” Betul.........” Semua penghuni Rak sepatu itupun menyahut dengan kompak.
            ” Aaah..! Kalian ini tahu apa sih. Sudah, jangan ikut campur! Aku ini dari luar negeri, tentu aku lebih tahu dan lebih pintar dari kalian. Jangan coba-coba menasehatiku lagi, aku muak!” Max membantah keras.
            Semuanya terdiam. Tak ada lagi yang berani membantah Max. Akhirnya seluruh penghuni Rak sepatu sepakat untuk memusuhi Max. Tidak ada yang mau bicara, menegur, apalagi berteman dengan Max. Sepatu sombong itu benar-benar tidak punya teman, kecuali majikannya Dirda, anak orang kaya yang juga sombong.  Hari itu Max benar-benar tidak berada di tempat yang seharusnya. Dia tetap dibawah, di depan kelas majikannya, sejak awal hingga sekolah usai. Padahal itu sangat tidak aman baginya. Max bisa saja terinjak-injak oleh anak-anak yang ingin keluar-masuk kelas. Atau bisa saja di tendang-tendang oleh anak-anak yang iseng, dan lain sebagainya. Tapi itulah Max dan Dirda, mereka tidak mau mendengarkan nasehat dari siapapun.
             Keesokans harinya, Ibu Guru segera menegur Dirda untuk meletakkan sepatunya di Rak yang sudah tersedia.
            ”Dirda, kamu tidak kasihan dengan sepatu kamu?” Ibu Guru mulai membujuk.
            ”Kenapa bu?” Dirda balik bertanya. Ibu guru menjawab lagi, ”Coba lihat, Sepatumu terpisah sendiri, sedangkan sepatu yang lain sudah tersusun rapi di Rak. Nanti kalau sepatumu terinjak-injak dan rusak bagaimana? Ini sepatu mahal kan? Ayo, sekarang letakkan dengan benar sepatumu, supaya terlihat rapi dan juga aman, mengerti?”
”Baik bu...” Dirda menyahut lemas. Sambil cemberut, Dirda meletakkan Max di rak yang paling bawah.
            ” Nah, itu baru anak Bu Guru yang pintar. Ayo masuk.” Bu Guru memuji.
            “ Hai Max, bagaimana rasanya berada di tempat yang sama seperti kami, nyaman bukan?” Pinky menyindir. “Ah, diam kau sepatu butut! Lihat saja warnamu yang bukan lagi warna pink, itu warna pink kusam namanya. Aku disini karena terpaksa, karena majikanku ditegur oleh Bu Guru ”
            Sepatu Hitam Black Sweet mencoba menengahi, ” Hei, teman-teman sudahlah, tak perlu bertengkar lagi. Kita ini sama-sama sepatu, sama-sama di tempat yang benar. Nikmatilah dunia kita, dunia dimana kita bisa melihat anak-anak nyaman dan senang memakai kita sebagai alas kakinya.”
            Akhirnya Max dan Pinky berhenti bertengkar. Mereka mulai menikmati pemandangan menarik dari posisinya masing-masing. Diiringi angin sepoi-sepoi, mereka melihat majikannya masing-masing yang sedang asyik belajar di dalam kelas. Karena suasana yang nyaman dan tenang, Max pun tertidur pulas. 10 menit kemudian, Bu Guru mengumumkan bahwa waktunya istirahat, dan anak-anak boleh bermain di luar kelas. Dengan senangnya anak-anak mulai keluar kelas. Karena terlalu bersemangat, sampai-sampai anak-anak menyenggol rak sepatu yang didalamnya terdapat banyak penghuni yang sudah tersusun rapi.
            Brakk! Rak sepatu plastik itu akhirnya jatuh. Isinya berhamburan keluar dan berantakan. Sepatu-sepatu yang sudah tersusun rapi meoêadi terpental kemana-mana. Pinky, Greeny, Bluety, dan si Black Sweet terkejut bukan main.
            Bluety mencoba melihat kondisi sekeliling sambil menahan sakit, ” Aduh/.aduh...sakit, ada apa ini? Apa yang terjadi?”
” Iya nih, ada apa sih, aku sampai kageu dan terbangun.” Greeny merasakan hal yang sama.
            ” Teman-teman, lihat! Ternyata Rak sepatunya jatuh, makanya kita semua jadi terpental begini, aduuuh sakit sekali.” Pinky mencoba menjelaskan.
” Hai, teman-teman, kalian tidak apa-apa ? ada yang terluka tidak? ” Black Sweet mencoba melihat kondisi seluruh teman-teman.
” Tidak apa-apa, kami hanya luka kecil, nanti juga sembuh, yang penting kami tidak rusak.” Pinky menjawab.
            ”Syukurlah kalau begitu. Hei, dimana Max? Ada yang melihat Max? Black Sweet melihat sekeliling dengan khawatir, karena sepatu luar negeri itu tidak tampak sama sekali.
Bluety menyahut, “Tidak, dimana ya Max? Teman-teman ayo kita panggil dia. Max...max...Max...Dimana kau? ”
Semuanya memanggil-manggil nama Max, mereka khawatir septu itu terpental terlalu jauh atau rusak.
            ” Max...Max..., keluarlah, apa kau baik-baik saja? ” Max................!
            Dari kejauhan, Max mulai menjawab panggilan teman-temannya. ” Teman-teman, tolong aku...aku disini...dibawah sini. Aku terjatuh ke selokan. Tolong...tolong...” Max berteriak keras minta tolong.
            ” Tunggu Max, kami akan menolongmu.” Teriak Black Sweet menenangkan. Tak lama Ibu Guru datang dan membetulkan semua posisi sepatu-sepatu yang berjatuhan ke lantai untuk kembali ke atas Rak. Bu Guru juga tak lupa mengambil Max yang jatuh ke selokan. Sepasang sepatu luar negeri itu menjadi basah, kotor, dan bau.
            ”Aduuh, apa yang terjadi? aku jadi sangat kotor dan bau.” Max mulai menyadari kondisinya.
            ” Max, tadi rak sepatu ini terjatuh, sehingga kita semua terpental dan berantakan keluar. Untung saja kami tidak luka parah, jadi masih bisa digunakan oleh majikan kami.” lagi-lagi Black Sweet memberi penjelasan.
            ” Aku...aku...bagaimana denganku..hik...hik...tubuhku kotor, bau, dan...dan..lampu bagian bawahku sudah tidak bisa dinyalakan lagi, bagaimana ini?” Max melihat dirinya yang sangat menyedihkan.
            ” Sudahlah Max, kau seharusnya bersyukur bahwa kau masih hidup, masih bisa digunakan oleh majikanmu, walau tak seperti dulu lagi.” Greeny mencoba menghibur.
            ” Iya max, mungkin ini juga sebuah teguran untukmu, agar kau tidak lagi bersikap sombong, walaupun kau memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan kami.” Pinky menambahkan.
            Bluety pun ikut menasehati, ” Betul Max, jadi lain kali kau tidak boleh bersikap sombong, karena kesombongan itu akan merusak dirimu sendiri. Sekarang, kau bisa merasakan sendiri akibatnya kan?”
            Max tertunduk lesu, ” I...iya, aku memang salah. Aku terlalu sombong dengan keadaan diriku sendiri. Aku selalu memandang rendah sepatu-sepatu yang lain, aku terlalu bangga dengan hargaku yang sangat mahal, aku menyesal teman-teman...maafkan aku ya...aku benar-benar menyesal.”
            Black Sweet menyambut gembira, ” Nah, begitu dong...baguslah kalau kau sudah sadar. Sekarang kita tidak usah memikirkan perbedaan diantara kita. Yang terpenting adalah, kita bisa bermanfaat untuk anak-anak yang memakai kita, dan membuat hati mereka senang dan semangat untuk berangkat ke sekolah, bukankah itu hal yang luar biasa?
            ” Betul...tul.tul...Baiklah Max, kita semua akan memaafkan kamu, asal kamu tidak lagi mengulangi hal yang sama, oke?” Pinky memberi syarat.
            Max menjawab, ” Baiklah teman-teman, aku janji tidak akan bersikap sombong lagi. Terima kasih telah memaafkanku.”
            Black Sweet berkata lagi, ”Nah, Max..kami punya sebuah ucapan untukmu.”
            ” Apa itu?” Max penasaran.
            Seluruh sepatu di Rak berkata serempak, ” Selamat  bergabung di dunia sepatu......! Ha...ha...ha....”

-SELESAI-





Tidak ada komentar:

Posting Komentar