“ Hai! Apa yang kau lakukan di sini? Kau bisa merusak kelopakku yang cantik ini tahu?” Bunga Mawar yang baru saja tumbuh sekitar tiga puluh sentimeter itu terbangun di pagi hari dan mendapati seekor semut di atas kelopaknya.
” Eh..eh..Kau sudah bangun rupanya. Maaf, aku ketiduran disini. Semalam aku ingin melihat Bulan, jadi aku naik keatas kelopakmu. Eh, ternyata aku terlelap. Maaf ya, perkenalkan namaku Namlu si semut. ”
(Sambil menggoyangkan kelopaknya) ” Huh! seenaknya saja kau naik kesini tanpa izin, sekarang kau harus segera turun, tubuhmu itu bisa saja meruntuhkan kelopakku yang baru saja tumbuh. Untung saja aku selalu dirawat dengan baik oleh penghuni rumah ini, jadi aku masih bisa bertahan. Dan kau semut jelek, jangan coba-coba lagi naik ke atas sini, mengerti!”
” Ba..baik Mawar. Aku minta maaf.” Namlu turun perlahan. Digerakkan tubuhnya memutar ke bawah dan segera menuruni tangkai bunga Mawar yang sombong itu. Aku harus mencari tempat lain yang aman untuk melihat keindahan Bulan. Pikirnya.
Jam delapan tepat Bu Warti keluar rumah dan segera mengambil peralatan menyiram bunga. Sudah menjadi kebiasaan rutin setiap pagi pemilik rumah yang baik hati itu menyiram dan merawat semua koleksi tanamannya. Termasuk bunga Mawar itu. Sambil berdendang kecil, Bu Warti membagikan butir-butir air nan jernih ke seluruh pelosok taman. Semuanya basah. Tak ada satupun yang merasa kekeringan. Semua tanaman tersenyum puas menyambut kesegaran pagi yang sudah dinantikan.
Jam delapan tepat Bu Warti keluar rumah dan segera mengambil peralatan menyiram bunga. Sudah menjadi kebiasaan rutin setiap pagi pemilik rumah yang baik hati itu menyiram dan merawat semua koleksi tanamannya. Termasuk bunga Mawar itu. Sambil berdendang kecil, Bu Warti membagikan butir-butir air nan jernih ke seluruh pelosok taman. Semuanya basah. Tak ada satupun yang merasa kekeringan. Semua tanaman tersenyum puas menyambut kesegaran pagi yang sudah dinantikan.
” Hai Namlu, mengapa kau terlihat sedih?” Namila si semut betina menghampiri. “Aku sedang memikirkan sesuatu, dan aku belum menemukan jalan keluarnya?” Sahut Namlu.
“ Apa itu?” Namila penasaran. “Begini, aku sangat suka melihat keindahan Bulan dimalam hari, karena menurutku bulan itu sangat cantik. Apalagi jika datang waktu Bulan Purnama. Waaah, sepertinya aku ingin tangkap saja Bulan itu dan kumakan sampai habis. Nyam..nyam..nyam...”
“ Hei..kau jangan ngaco Namlu, mana mungkin Bulan bisa dimakan? Kau ini ada-ada saja. Lalu apa masalahnya? ”
” Eh, iya..ya. Bulan itu tidak bisa dimakan. He..he..Maaf Namila. Aku terbawa suasana. Aku sedang bingung mencari tempat yang bagus untuk melihat Bulan malam ini. Apa kau punya ide?”
Dua sahabat itu terdiam sejenak dan berpikir. Tiba-tiba Namila berkata, “Aha! aku punya ide. Bagaimana kalau kita naik ke atas Bunga Mawar yang ada di depan sana. Pasti Bulan itu akan terlihat sangat jelas. “
(Menjawab dengan lesu) “ Hhhh......Kau belum tau saja, Namila. Semalam aku baru saja dari sana dan aku diusirnya. Bunga Mawar itu sangat pelit dan sombong. Aku tidak boleh lagi naik ke atas kelopaknya yang indah itu.”
“ Huh, Bunga Mawar itu memang angkuh! Aku tidak suka melihatnya sejak pertama kali dia datang. Aku jadi heran, seberapa berat sih tubuh seekor semut bila naik ke atas kelopaknya? Aku yakin tak akan merusak apapun, kita ini kan hanya seekor semut. Sudahlah Namlu, Ayo kita cari tempat lain. Pasti ada tempat yang lebih baik dan menarik untuk melihat bulan malam ini. Ayo..ikut aku.”
Merekapun pergi. Berharap ada tempat lain yang bisa dijangkau bagi dua ekor semut yang mencari keindahan malam. Dari kejauhan terlihat Bunga Mawar sedang berdendang kecil sambil sesekali mengibaskan kelopak merahnya.
”La...la..la..la..Aku Mawar yang cantik...yang cantik..yang cantik..., Aku si Mawar Merah yang cantik. Hmm, tak sabar rasanya melihat kelopakku tumbuh besar dan semakin besar. Pasti aku akan semakin terlihat cantik. Lihat saja di taman ini, tidak ada yang dapat menandingi kecantikan dan keelokanku. La..la..la...”
Malam pun tiba. Kesunyian menyelimuti seluruh sudut rumah. Penghuninya telah kembali ke peraduan dan beristirahat untuk kembali beraktifitas esok hari. Namlu dan Namila berhasil menemukan sebuah tempat untuk melihat Bulan. Sebuah Batu. Ya, sebuah Batu yang berada di tengah-tengah taman telah menjadi tempat barunya. Kini mereka tenang. Tidak ada lagi yang memarahi, apalagi mengusirnya. Mereka bisa dengan bebas menikmati indahnya Bulan yang saat ini setengahnya sedang bersembunyi di balik awan.
” Kau benar Namila, ini tempat yang sangat bagus untuk melihat Bulan. Hmmm, aku sangat senang sekali. Terima kasih Namila, kau memang sahabatku yang hebat ”
” Syukurlah. Kita bisa melihat keindahan malam ini tanpa ada gangguan. (sambil menunjuk ke langit) Lihat Namlu, awannya mulai bergerak. Bulan purnamanya kelihatan. Waah...Indah sekali. ”
” Iya, bulan purnama yang selama ini kucari akhirnya muncul juga. Sudah lama sekali aku ingin melihat bulan purnama. Kerja keras kita tidak sia-sia Namila. ”
Keesokan harinya
Keesokan harinya
Pagi-pagi sekali keluarga Bu Warti sudah bangun. Pukul 05.30 seluruh keluarga sudah meninggalkan rumah dengan terburu-buru. Sepertinya mereka akan pergi jauh. Mereka membawa beberapa tas pakaian, memasukkan ke dalam mobil, dan.....whuss...mereka hilang di tengah fajar yang baru saja terbit. Saat jam Sembilan pagi, Si Bunga Mawar baru terbangun. Dia melihat sekeliling rumah. Sepi.
” Aduh...., aku haus sekali. Lho, mengapa tanahku masih kering? Kemana Bu Warti? Kenapa rumah ini begitu sepi? Kemana semua orang? Heiiiii...Siapapun yang didalam rumah, keluarlah...aku butuh air....aku butuh air....toloong.., aku haus....”
Namila si semut betina melihat si Mawar yang kebingungan dan berkata, ” Hai Mawar yang sombong, percuma saja kau berteriak minta tolong. Seluruh keluarga Bu Warti sudah pergi pagi-pagi sekali. Sepertinya mereka terburu-buru, jadi, mereka tak sempat memberimu air. Kau tunggu saja sampai mereka pulang. ”
” APA? Tidak mungkin! Mereka meninggalkanku tanpa sedikitpun air? Oh...oh...tidak, ini tak bisa dibiarkan. Bagaimana denganku? Kelopakku yang cantik ini bisa layu karena kekeringan. Aku butuh air...aku butuh air..aku butuh air..”
” Sepertinya ini memang sudah takdirmu, Mawar. Kau telah ditinggalkan karena kesombongan dan perbuatanmu terhadap sahabatku Namlu. Sekarang, rasakan akibatnya.”
” To..tolonglah aku Namila. Aku butuh bantuanmu. Aku memang bersalah telah mengusir dan menghina temanmu. Maafkan aku Namila, maafkan aku.”
” Tidak Bisa! Kau sudah membuat sahabatku sedih. Sekarang nikmatilah ganjaran atas perbuatanmu sendiri. Kau akan kering, layu, dan mati secara perlahan-lahan, dan tak ada lagi yang mau melihatmu, apalagi menyentuhmu. ”
Namlu datang dengan heran, ” Hei, ada apa ini Namila? Mawar, apa yang terjadi denganmu, mengapa kau tampak layu?”
“ I..iya Namlu. A..a..aku kekurangan air. Tubuhku semakin lemas. Kelopakku sudah mulai rontok satu persatu. Bu Warti lupa menyiramku karena dia sudah pergi pagi-pagi sekali. Tolong aku Namlu..Tolong aku. Maafkan atas semua kesalahanku kemarin. Aku...aku benar-benar menyesal.”
” Jangan kau dengarkan dia, Namlu. Dia pembohong. Sekali sombong tetap sombong. Kau jangan sampai terkena tipu dayanya. ” Ucap Namila.
” Tenanglah Namila. Coba kau perhatikan baik-baik sorot matanya, wajahnya, tubuhnya yang sudah mulai layu, apakah itu juga terlihat bohong? Ini memang terjadi secara alami. Setiap tanaman apapun jika kekurangan air pasti akan mati. Kau tidak menaruh kasihan padanya? Dia juga makhluk hidup Namila, sama seperti kita. Ayo kita tolong dia..”
Namila terdiam dan tertunduk malu. Tak lama kemudian dia berkata, ” Baiklah Namlu, kau benar. Tapi, Bagaimana cara menolongnya? Kita ini hanya seekor semut kecil yang lemah Namlu.”
Namlu termenung sejenak. Otaknya berpikir keras, lalu tiba-tiba berkata, ” Begini saja, kau panggil seluruh teman-teman semut yang lain di sarang, lalu kumpulkan daun sebanyak-banyaknya. Kita akan alirkan air dari sumber di ujung sana secara estafet dengan menggunakan daun. Bagaimana?”
”Kau yakin ini akan berhasil Namlu?” Namila merasa ragu. ” Kalau kita bekerjasama, pasti bisa! Ayo cepat, jangan buang-buang waktu.” Namlu mengajak bergegas dan segera berlari ke sarang. Mawar memanggil, ” Namlu, Namila, Terima kasih banyak, kalian memang baik hati.” Namlu dan Namila tersenyum.
Tidak sampai dua menit, ratusan semut keluar dari sarang. Mereka segera mengambil daun-daun yang dapat digunakan untuk mengalirkan air dari sumbernya ke tanaman Mawar. Dengan intruksi Namlu, semut-semut itu segera mengambil posisi berbaris dengan daun-daun diatas kepala mereka, lalu mulai mengalirkan air dari tempat yang tergenang di salah satu sudut taman.
”Satu..dua..tiga..ayo kawan-kawan, alirkan airnya perlahan-lahan. Jaga posisi daunnya agar tetap berdekatan. Jangan sampai airnya jatuh sia-sia, kita selamatkan bunga Mawar itu.”
” Ayo......!” Semua semut kompak menjawab seruan Namlu. Tak lama kemudian, Bunga Mawar pulih dari kekeringan, tanah tempatnya tumbuh mulai basah. Cepat-cepat Mawar menghisapnya, dan mengedarkan ke seluruh tubuhnya. Setelah setengah jam berlalu, tangkai, daun dan kelopak merahnya sudah kembali segar, dan dia sudah kembali tersenyum.
” Terima kasih teman-teman, kalian sungguh semut-semut yang luar biasa. Untuk sahabat kecilku Namlu dan Namila, kalian boleh kapan saja naik ke atas kelopakku dan melihat bulan di malam hari, karena aku juga suka melihat bulan. Namlu dan Namila saling berpandangan. ”Benarkah?” bagaimana kalau mulai malam ini Mawar?”
” Boleh saja, asal....kalian harus cari tempat lain jika kalian bertambah gendut dan berat ya...”
”Ha..ha..ha...”
-SELESAI-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar