Minggu, 07 November 2010

MAHALNYA SEBUAH TIMBANGAN

Anda tentu pernah melihat benda yang bernama timbangan bukan? Benda ini sangat familiar bagi para pedagang. Anda dapat dengan mudah menemukan benda ini di pasar tradisional maupun modern. Bentuk dan modelnya pun bermacam-macam. Tergantung dari fungsi timbangan itu sendiri. Untuk menimbang badan,  buah , daging, atau emas. Suatu saat, aku melihat sebuah timbangan yang sangat berbeda dari timbangan-timbangan yang lain. Dia begitu unik, antik, dan sangat cantik dengan lapisan emas murni di seluruh permukaannya. Bentuknya sama dengan timbangan yang digunakan di berbagai toko emas di pasar. Yap, bentuknya seperti neraca.Wah, sepertinya tidak semua orang bisa memiliki timbangan seperti itu. Bukan hanya saja terlalu mewah atau pun mahal, tetapi karena timbangan ini sangat tersimpan rapi di sebuah kotak kaca. Orang-orang yang menginginkannya hanya bisa melihat dari luar, dari jauh, tanpa bisa menyentuh apalagi memilikinya.  

BELAJAR DARI ANGSA

Siapa yang tidak kenal Angsa? Bila kita berada di sebuah Negara dengan empat musim, kita dapat melihat serombongan Angsa yang terbang dan pergi ke daerah yang lebih hangat untuk menghindari musim dingin. Mungkin sudah banyak yang tahu, mereka terbang membentuk formasi ”V”. Siapa yang mengajarkan mereka? Darimana mereka mendapatkan teori bahwa jika terbang dalam formasi “ V “, efisiensi seluruh ”Grup”
akan naik sebesar 71 %, dibandingkan dengan terbang sendiri sendiri.
Maha suci Allah yang telah menurunkan informasi yang sangat penting ini kepada para Angsa. Hal ini bermakna dalam kehidupan berjamaah. Alangkah indahnya bekerja secara tim, bergerak ke arah tujuan yang sama , dan mencapai tujuan lebih cepat dan lebih ringan daripada bekerja secara individual. Ketika ada salah satu Angsa yang meninggalkan formasi, yakinlah bahwa dia akan segera kembali ke formasi “V”. Mengapa?  Angsa tersebut mengalami daya tahan udara yang besar, sehingga merasa kesulitan untuk terbang sendiri. Kita dapat mengambil ibroh bahwa indahnya jika manusia selalu kompak di dalam tim yang bergerak ke satu tujuan, dan tentu membutuhkan  lebih sedikit energi, lebih mudah dan lebih menyenangkan untuk mencapai tujuan. Setiap anggota dari tim tersebut akan merasa berkewajiban untuk menolong sesama. Ketika team leader  dari rombongan Angsa kelelahan, Dia akan berpindah ke ujung formasi  “V”, sementara itu Angsa lain akan langsung menggantikan posisi sebagai leader. Subhanallah, Sungguh indah apabila manusia berbagi kepeminpinan dengan didasari  saling hormat dan percaya di antara anggota setiap saat. Saling berbagi tugas, masalah yang paling berat atau ringan. Pusatkan kemampuan dan bakat tim untuk memecahkan masalah. Apalagi yang dilakukan para Angsa? Ternyata mereka terbang dalam formasi  “V” sambil ber “kotek “ hal ini akan memberi semangat terbang “Team leader” . Dengan cara demikian mereka terbang dengan kecepatan yang sama. Sepertinya manusia juga akan mengalami hal yang sama.  Bila mana ada semangat dan ‘penyemangat’, kecepatan penyelesaian pekerjaan akan lebih besar. Keberadaan semangat akan selalu memotivasi , menolong dan menguatkan, yang pada akhirnya akan menghasilkan kualitas yang terbaik.  Ketika salah satu Angsa sakit atau kelelahan, Dia akan tertinggal dan keluar dari formasi. Tetapi beberapa Angsa akan keluar juga dari formasi, dan membentuk formasi baru untuk menolong dan mengawal angsa yang sakit sampai sehat dan kembali masuk ke formasi, atau terus dengan formasi tersebut, atau jatuh dan meninggal. Pelajaran berikutnya dari Angsa untuk manusia adalah tinggallah berdampingan dengan yang lain apapun perbedaan kita.

Lebih- lebih pada waktu kita menghadapi kesulitan dan tantangan yang besar. Jika kita kompak dan saling mendukung, jika kita  menghayati dan menjiwai kerja sama yang baik, melupakan perbedaan masing- masing maka kita akan selalu dapat mengatasi tantangan. Mari kita selami arti dari persahabatan. Apabila di antara kita selalu bersedia
untuk saling berbagi, maka hidup ini akan lebih berarti dan kita akan melewati waktu mendatang dengan kebahagiaan.Wallahu’alam.



Belajar Efektif Lewat Telinga

Ada 3 jenis gaya belajar anak yang harus kita ketahui. Kemudian, apa yang harus kita lakukan jika sudah tahu? Sudahkah kita melakukan hal yang sesuai dengan kebutuhan mereka?
3 Gaya belajar tersebut adalah :
(1) Lewat mata (visual learning style). Anak akan lebih mudah memahami              sesuatu jika bisa dilihat, seperti tulisan, gambar, atau peragaan tentang cara melakukan sesuatu.
(2) Lewat telinga (auditory learning style). Anak akan lebih mudah memahami sesuatu jika bisa didengar, seperti suara orang yang membicarakan hal yang ingin dipahami, menghapal lewat nada lagu, atau bunyi-bunyian khas.
(3) Lewat gerakan (kinesthetic learning style). Anak akan lebih mudah memahami sesuatu jika bisa sambil menggerakkan tubuh, seperti mencoba sendiri memasak setelah dipraktekkan, melakukan eksperimen sendiri, atau memutari benda yang ingin diketahuinya.
Nah, mana dari ketiga gaya di atas yang merupakan gaya belajar anak Anda? Bila anak Anda suka belajar dengan cara mendengar (auditory learner), ia tidak akan tergali potensinya bila cara belajar di sekolah lebih menunjang penglihatan (visual learning). Ujung-ujungnya, anak akan sulit memahami apa yang diajarkan. Apakah anak Anda sebetulnya lebih mudah belajar lewat telinga? 

Antara CUCUR dan JUJUR

Apa bedanya JUJUR dengan CUCUR? Sebuah pertanyaan menarik dan menggelitik membuat setiap orang yang membaca atau mendengar heran dan mengerutkan dahi. Mengapa harus dibandingkan dengan kue CUCUR ya? Apabila dibandingkan berdasarkan ketatabahasaan, kedua kata tersebut sama-sama memiliki lima huruf. Bedanya kata JUJUR memiliki huruf pertama dan ketiga J, sedangkan CUCUR memiliki huruf pertama dan ketiga C. Tipis sekali memang, tapi itulah yang membuat menarik. Kue CUCUR yang legit dan manis itu akan sangat nikmat jika disantap sebagai teman minum kopi atau teh. Sedangkan JUJUR, tentu akan terasa manis juga jika digunakan, diaplikasikan, serta dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari di Negeri ini. Alangkah miris melihat potret buram tentang kejujuran di Indonesia. Mulai dari pengemis jalanan yang ’pura-pura’ sakit / cacat, pedagang yang mengurangi timbangan, pelaku bisnis yang ’main curang’, hingga para koruptor, baik kelas teri maupun kelas kakap yang dengan bebas melangkah dan beraksi di seluruh penjuru Nusantara.
Ada apa dengan kejujuran di Negeri kita? Sepertinya telah menjadi sesuatu yang sangat langka dan asing terdengar. Jika ada orang yang bersikap jujur, dianggap aneh. Jika ada orang yang mencoba mengembalikan uang atau sesuatu yang memang bukan miliknya, pasti dianggap munafik atau sok. Kebohongan dalam bentuk apapun seperti sesuatu yang sangat wajar terjadi, walaupun sangat merugikan. Sebenarnya umat islam memiliki idola yang sangat pantas dan patut untuk dicontoh dalam hal kejujuran ini. Siapa lagi kalau bukan nabi akhir zaman Muhammad SAW. Dari perkataan, tingkah laku dan gerak-gerik kesehariannya dapat kita lihat bagaimana beliau memang selayaknya mendapat gelar Al-Amin (yang dapat dipercaya). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dikatakan bahwa :
” Abdullah bin Mas’ud berkata: Bersabda Rasulullah : Kalian harus jujur karena sesungguhnya jujur itu menunjukan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan kepada jannah. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur sehingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan dan keburukan itu menunjukkan kepada neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta sehingga ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta” (HR Muslim) Shohih Muslim hadits no : 6586.
Jelas sekali bukan? Bagi seorang muslim yang telah meyakini bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah utusan Allah, tentu dapat melihat secara gamblang pentingnya sikap jujur dalam kehidupan manusia, di dunia dan akhirat. Secara logika hadits ini dapat dengan mudah kita ambil hikmahnya. Ternyata setiap perbuatan jujur yang seseorang lakukan akan membawa orang tersebut kepada sebuah kebaikan, dan akan menghantarkannya menuju syurga. Subhanallah, indah sekali bukan? Kita ambil satu ilustrasi seorang pedagang daging sapi. Apabila pedagang ini selalu bersikap jujur dalam setiap transaksinya, tidak mengurangi timbangan agar memiliki untung besar, tidak menaikkan harga sembarangan, maka sangat diyakini bahwa pedagang ini akan sukses di kemudian hari. Mengapa? Pertama, dia akan disukai banyak pelanggan, kemudian hal itu akan menarik magnet rezeki dan keberkahan yang jauh lebih besar lagi bagi keuntungan perdagangannya. Para pembeli akan segera beralih kepada si pedagang yang jujur ini. Tinggal menunggu waktu, setelah semua pembeli yang membutuhkan daging sapi hanya membeli dari satu pedagang yang jujur ini, apa yang terjadi? Kebaikan dunia akhirat pun ditangan. Rezeki berlimpah, kebaikan bersikap jujur berpahala, dan Insya Allah dapat meraih Syurga.
Bagaimana jika ada seorang pedagang lagi yang bersikap sebaliknya? Dia tidak segan-segan mengurangi timbangannya, tidak malu menaikkan harga, menjual daging sapi dengan kualitas sangat rendah tetapi harga yang tinggi. Apa yang akan terjadi? Benar. Untuk pertama kali mungkin pembeli tidak terlalu merasakan. Namun jika pembeli sudah mendapati kebohongan sekecil apapun, pasti pedagang itu akan ditinggalkan jauh-jauh. Fatalnya lagi, para pembeli itu akan berbicara kepada calon pembeli lainnya utnuk tidak membeli di tempat yang sudah merugikannya. Walhasil, Pedagang itu mendapat kerugian, mendapat keburukan karena sifatnya, serta satu paket menuju ke Neraka. Na’udzubillah. Sifat fitrah manusia memang tidak suka dibohongi, dalam bentuk apapun. Oleh karena itu, modal utamanya adalah dengan bersikap jujur, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Bukankah pengertian dari Iman itu sendiri merupakan refleksi dari sikap jujur? Mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalam hati, dan melaksanakan dengan perbuatan. Memang tidak mudah untuk selalu jujur, namun perlu usaha dan ikhtiar yang optimal dan kita biasakan dari hal-hal yang kecil dalam kehidupan kita sehari-hari. Berbicara, berbuat, berpendapat, bersaksi di pengadilan, dan lain sebagainya.
Lagi-lagi, bersikap jujur memanglah tidak mudah. Perlu kerja ekstra keras dari seluruh elemen Bangsa Indonesia untuk memulainya. Paling tidak mulailah dari diri sendiri, keluarga, lingkungan masyarakat, dan mudah-mudahan menjadi sebuah bola salju yang terus meluncur, menggulung, dan melesat menjadi jauh lebih besar, hingga mampu menghancurkan berbagai kebohongan dan kedustaan di sekelilingnya. Harapan besar menanti di setiap insan Negeri ini, baik orang kecil maupun pejabat, baik pedagang ataupun pelaku bisnis, laki-laki atau perempuan, semuanya harus mendukung dan berusaha melaksanakan gerakan hidup JUJUR. Agar suatu hari nanti, JUJUR pun akan senikmat dan semanis kue CUCUR, yang dapat dengan mudah dan murahnya diperoleh dan dinikmati bersama. Harapan itu masih ada, marilah kita awali saat ini juga.

Ada Apa Dengan Sekolah Unggulan ?

Apa yang anda pikirkan tentang ‘sekolah unggulan’? apakah sekolah unggulan adalah  yang mencetak alumni yang berprestasi secara akademik? Sekolah dengan fasilitas mewah dan biaya yang mahal?. Banyak persepsi yang berkembang di masyarakat kita tentang konsep sekolah unggulan. Paradigma pada umumnya adalah bahwa sekolah unggulan biasanya memerlukan uang masuk yang cukup besar, setiap tahun selalu banyak peminatnya, tingkat kelulusan yang sesuai standar nasional atau bahkan lebih, banyaknya kegiatan –kegiatan sekolah yang diselenggarakan, mulai dari ekstrakurikuler, cara belajar dan lain sebagainya. 
Menurut Nurkholis, sebutan sekolah unggulan itu sendiri kurang tepat. Kata “unggul” menyiratkan adanya superioritas dibanding dengan yang lain. Kata ini menunjukkan adanya “kesombongan” intelektual yang sengaja ditanamkan di lingkungan sekolah. Di negara-negara maju, untuk menunjukkan sekolah yang baik tidak menggunakan kata unggul (excellent) melainkan effective, develop, accelerate, dan essential (Susan Albers Mohrman, et.al., School Based Management: Organizing for High Performance, San Francisco, 1994, h. 81)
Dari penggunaan kata ‘unggul’ saja dapat diartikan bahwa ada yang harus direvisi dan diatur kembali oleh pihak-pihat terkait.  Apabila ada ‘sekolah unggulan’, hal ini mengisyaratkan bahwa ada juga sekolah yang ‘bukan unggulan’. Hal ini dapat mengganggu kenyamanan dan stabilitas / kondisi pendidikan di Indonesia.  Bukan tidak mungkin anak-anak yang sekolah di ‘sekolah unggulan’ akan merasa lebih baik, lebih pintar, lebih dari segala-galanya dibandingkan sekolah yang lain. Hal ini dapat mengganggu tercapainya salah satu tujuan pendidikan yaitu memperbaiki/ mengubah perilaku (afektif) pada peserta didik. Akan lebih baik jika istilah sekolah unggulan diubah menjadi istilah yang tidak berdampak negatif bagi pendidikan itu sendiri. Misalnya sekolah “efektif dan bermutu”.    
Konsep sekolah unggulan di Indonesia masih terlihat fiktif. Terlihat dari sebagian besar sekolah unggulan yang ada memilih para siswa yang masuk sekolah unggulan tersebut memiliki nilai yang tinggi, dengan harapan sekolah unggulan tersebut memperoleh generasi terbaik pada hasil akhirnya. Ini bertolak belakang yang menggambarkan bahwa sekolah unggulan adalah sekolah yang membentuk siswa yang biasa menjadi luar biasa. Konsep sekolah unggulan yang sebenarnya menjadi bias antara satu dengan yang lain dan menyebabkan berbagai tipe sekolah unggulan diantaranya :
Tipe 1
Tipe sekolah yang menerima dan menyeleksi secara ketat siswa yang ingin masuk dengan kriteria prestasi akademik yang tinggi. Namun, disisi lain proses belajar-mengajar seperti biasa bahkan mengarah ortodok, namun dikarenakan input yang terbaik maka outputnya dipastikan unggul.
            Tipe 2
Tipe sekolah yang mempunyai fasilitas yang serba mewah, dengan konsekuensi SPP yang sangat tinggi. Sekolah ini dibentuk dengan harapan berkurangnya siswa yang sekolah ke luar negeri. Dengan metode dan pendekatan yang lebih baik memberikan jaminan untuk membentuk siswa sesuai dengan permintaan.

Tipe 3
Tipe sekolah ini menekankan pada suasana belajar yang kondusif. Sekolah ini memiliki jaminan merubah input dari siswa yang berprestasi rendah menjadi output yang bermutu tinggi.


            Dari penjelasan ketiga tipe sekolah unggulan diatas dapat diasumsikan bahwa ada tujuan dan cara yang berbeda-beda dari masing-masing tipe sekolah unggulan. Dari ketiga tipe tersebut, yang paling memungkinkan menjadi sekolah unggulan yang ‘sebenarnya’ adalah tipe yang ke-3. Pada tipe ini sekolah tidak menekankan pada biaya yang mahal, fasilitas yang mewah, atau hanya menerima anak-anak yang memang sudah memiliki ‘bibit unggul’ sejak awal, tetapi lebih menekankan pada ‘proses’ dari pembelajaran itu sendiri. Bukan tidak mungkin hal ini terjadi pada sekolah yang ‘biasa-biasa’ saja, dengan fasilitas yang tidak perlu mewah, dengan biaya terjangkau oleh kalangan manapun, tetapi dapat menghasilkan output yang berkualitas dan bermutu tinggi, walaupun pada awal masuk sekolah tergolong siswa yang berprestasi rendah.

            Secara global pengertian sekolah unggulan adalah sekolah yang mampu membentuk siswa mencapai kemampuan secara terstruktur dan mampu menunjukkan prestasinya tersebut.
Nah, bagaimana dengan sekolah kita?

Sabtu, 06 November 2010

10 Kiat Utama Untuk Melatih Anak Menulis

“ Aku harus menulis apa ya?..... “ Bu guru, aku tidak bisa menulis, aku tidak tahu apa yang harus aku tulis,”… “ Ah, aku paling males kalau disuruh mengarang bebas” . Beberapa kalimat tersebut sering kali kita dengar dari mulut siswa –siswi kita ketika pelajaran Bahasa Indonesia berlangsung, khususnya di Sekolah Dasar. Ketika diberi waktu untuk membuat sebuah tulisan, anak-anak seringkali bingung dan tidak tahu apa yang harus mereka tulis. Beberapa siswa khawatir dan merasa takut tulisannya tidak layak untuk dibaca orang lain. Beberapa siswa lagi memang benar-benar tidak mengerti, karena tidak tahu harus memulai dari mana dalam membuat tulisan. Sebagai Guru, tentu hal ini perlu disiasati lebih lanjut agar tidak ada lagi kata ‘takut’ atau ‘phobia’ dalam membuat tulisan.