“ Hai! Apa yang kau lakukan di sini? Kau bisa merusak kelopakku yang cantik ini tahu?” Bunga Mawar yang baru saja tumbuh sekitar tiga puluh sentimeter itu terbangun di pagi hari dan mendapati seekor semut di atas kelopaknya.
” Eh..eh..Kau sudah bangun rupanya. Maaf, aku ketiduran disini. Semalam aku ingin melihat Bulan, jadi aku naik keatas kelopakmu. Eh, ternyata aku terlelap. Maaf ya, perkenalkan namaku Namlu si semut. ”
(Sambil menggoyangkan kelopaknya) ” Huh! seenaknya saja kau naik kesini tanpa izin, sekarang kau harus segera turun, tubuhmu itu bisa saja meruntuhkan kelopakku yang baru saja tumbuh. Untung saja aku selalu dirawat dengan baik oleh penghuni rumah ini, jadi aku masih bisa bertahan. Dan kau semut jelek, jangan coba-coba lagi naik ke atas sini, mengerti!”
” Ba..baik Mawar. Aku minta maaf.” Namlu turun perlahan. Digerakkan tubuhnya memutar ke bawah dan segera menuruni tangkai bunga Mawar yang sombong itu. Aku harus mencari tempat lain yang aman untuk melihat keindahan Bulan. Pikirnya.