Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 November 2010

Dongeng introspeksi: SEPATU YANG SOMBONG (Versi Dewasa)

        Tak-tok..tak-tok..tak-tok….Sepatu dengan hak setingi delapan sentimeter itu mulai berjalan mengarah ke sebuah ruangan di sebuah gedung yang sangat strategis. Ups! Ternyata sepatu itu terus saja berjalan. Tak melirik sedikitpun untuk berhenti sejenak dan beristirahat di tempat yang sudah disediakan petugas gedung itu persis di depan ruangan. Rak sepatu berwarna merah terang tentu sangat mudah terlihat oleh siapapun. Ternyata? “ Dasar sombong! Ucap sepatu tak ber-hak alias teplek yang berada di rak sepatu bagian teratas menggerutu. “ iya nih, Mentang –mentang pemiliknya itu wanita pejabat, punya hak setinggi delapan sentimeter, eeeh…dia tidak mau melepas sepatunya itu disini. Sepatu Boot di tingkat kedua menyahut membenarkan ucapan sepatu teplek. Sepatu olahraga yang berada di sebelah sepatu Boot tak tahan dan berceloteh. “ Lihat teman-teman, apa sih hebatnya sepatu itu? Dia Cuma punya hak delapan senti kok, temanku ada yang lebih tinggi lagi hak sepatunya, lima belas sentimeter. Haa…? Seluruh penghuni rak sepatu pun membuka mulutnya lebar-lebar. Sepatu berhak dua sentimeter pun tak mau ketinggalan. “ Ini tidak bisa dibiarkan! Kita harus segera bertindak. Jangan sampai sepatu wanita itu semakin tinggi hati dan tak pernah berada di tempat ini bersama-sama dengan kita. Ini tidak adil. Tiba-tiba sandal jepit yang sudah berusia lebih dari 3 tahun, lusuh, dan basah karena baru saja dipakai pemiliknya untuk berwudhu ikut berkomentar dengan nada yang lebih lembut. “ Sudahlah teman-teman, buat apa kalian selalu menggerutu seperti itu, tidak baik. Mungkin saja pemilik sepatu itu lupa atau tidak melihat papan pemberitahuan untuk meletakkan alas kakinya di tempat ini. Kita lihat saja besok, sepertinya wanita itu akan datang setiap hari ke ruangan ini.”